Wednesday, September 14, 2016

Ahli Waris Dari Kelompok Laki Laki

Ahli waris dari kelompok laki-laki.

                             السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Selamat datang di Ulumul Islamiyah, kali ini Ulumul Islamiyah akan membahas tentang Ahli waris dari kelompok laki-laki.
Seperti yang pernah saya tuliskan di Rukun Rukun Warisan, bahwa ahli waris adalah orang yang akan menerima warisan(harta tirkah) dari seseorang yang telah meninggal. Ahli waris ada 2 kelompok, yaitu laki-laki dan perempuan, dari kelompok laki-laki sendiri ada 15 dan dari perempuan ada 10. Jadi total ahli waris ada 25. Tapi sekarang Ulumul Islamiyah akan menyebutkan dari kelompok laki-laki.

Ahli waris dari kelompok laki-laki

1. Anak laki-laki.
2. Anak laki-lakinya anak laki-laki.
3. Bapak.
4. Bapaknya Bapak.
5. Saudara laki-laki sekandung.
6. Anak laki-lakinya saudara laki-laki sekandung.
7. Saudara laki-laki sebapak.
8. Anak laki-lakinya saudara laki-laki sebapak.
9. Saudara laki-laki seibu.
10. Paman sekandung.
11. Anak laki-lakinya paman sekandung.
12. Paman sebapak.
13. Anak laki-lakinya paman sebapak.
14. Suami.
15. Laki-laki yang memerdekakan budak.

Nah itulah macam-macam ahli waris dari kelompok laki-laki. Semoga bermanfaat.

                              والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sumber :  Ilmu Faraid dari Kitab Al Miftah oleh KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah. MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak.Ulumul Islamiyah

Sesuatu Yang Bisa Menghalangi Warisan

Sesuatu Yang Bisa Menghalangi Warisan

                                السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pada pertemuan ini Ulumul Islamiyah akan membahas tentang sesuatu yang bisa menghalangi warisan atau sesuatu yang menyebabkan seseorang tidak bisa mewaris.

Sesuatu yang bisa menghalangi warisan, dalam bahasa arab disebut juga موانع الارث


Dilihat dari katanya موانع jamak dari منع yang artinya penghalang. موانع penghalang-penghalang/beberapa penghalang. الارث artinya warisan. Jadi موانع الارث artinya penghalang-penghalang warisan, atau sesuatu yang menghalangi warisan, jadi jika seseorang menjadi kategori dibawah ini tidak bisa mendapatkan warisan. Maka jangan lakukan dibawah ini jika masih ingin mendapatkan warisan.


Sesuatu yang bisa menghalangi warisan ada 3

1. Budak/Menjadi Budak (الرّق).

Secara bahasa budak artinya penghambaan.

Secara istilah budak artinyya orang yang lemah di mata hukum.

Orang yang sudah menjadi budak maka dia akan terhalang dari 2 sisi, yaitu :

- Menjadi Pewaris, jadi seorang yang telah menjadi budak, apabila meninggal, Harta Trikahnya tidak dapat diwariskan ke ahli waris. Balik harta yang dimilikinya akan menjadi milik tuannya.

- Menjadi Ahli Waris, budak tidak akan diberi warisan sedikitpun.

2. Membunuh (القتل). Yang dimaksud membunuh adalah membunuh kepada orang yang bisa diwarisi hartanya. Oleh karena itu orang yang membunuh tidak bisa mewaris kepada orang yang dibunuh.
Di Fiqih pembunuhan ada 3 versi, yaitu :
- Sengaja (عمد)
- Semi Sengaja (شبه العمد)
- Salah (خطاء) InsyaAllah nanti akan ditambahkan Ilmu Fiqih di Ulumul Islamiyah ini.

3. اختلاف الدين yaitu beda agama antara ahli waris dengan orang yang mewariskan hartanya.

"ORANG YANG TIDAK SEAGAMA TIDAK BISA SALING MEWARIS"


لاَ يَرِثُ المسْلِمُ الكَافِرَ وَلاَ يَرِثُ الكَافِرُ المسْلِم

Orang muslim tidak bisa(boleh) mewarisi harta orang kafir, dan orang kafir tidak bisa(boleh) mewarisi harta muslim.

Nah itulah sesuatu yang bisa menghalangi warisan, untuk baca artikel lainnya, tetap kunjungi ulumul islamiyah.


والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sumber :
Kitab Al Miftah oleh Alm. KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak.
Ulumul Islamiyah.

Syarat Syarat Warisan

Syarat Syarat Warisan


                        السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Selamat malam saudara Ulumul Islamiyah.
Pada pembahasan kali ini Ulumul Islamiyah akan membahas tentang Syarat Syarat warisan.
Syarat syarat warisan merupakan syarat syarat yang harus dipenuhi agar ahli waris memperoleh warisan. Lantas apa saja syarat syarat warisan?

Syarat Syarat Warisan


1. Orang yang mewariskan harus benar benar meninggal dunia.

2. Ahli waris harus benar benar hidup disaat orang yang mewariskan meninggal dunia. Walaupun ahli waris tersebut masih ada di dalam kandungan.

3. Ahli waris faham dengan sesuatu yang berhubungan dengan warisan, yaitu jalur jalur warisan. Jalur-jalur warisan bisa cek di Pembagian Warisan Menurut Islam Sekarang.
Nah itulah Syarat Syarat Warisan. Semoga bermanfaat. Terus kunjungi Ulumul Islamiyah untuk ilmu-ilmu islam lainnya!

                        والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sumber :  Ilmu Faraid dari Kitab Al Miftah oleh KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah. MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak. Ulumul Islamiyah

Tuesday, September 13, 2016

Rukun Rukun Warisan

Rukun Rukun Warisan



                            السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Rukun. Dalam apa saja pasti terdapat rukun. Tanpa rukun maka tidak akan terjadi sesuatu. Sebenarnya rukun itu apa? Rukun adalah Sesuatu yang harus terpenuhi guna terjadinya sesuatu. Di dalam warisan juga ada rukun-rukunnya. Apa saja rukun rukun warisan?

Rukun Rukun Warisan

1. Ahli Waris. Yaitu orang yang akan menerima Harta Tirkah dari seseorang yang telah meninggal. Ada banyak macam-macamnya ahli waris dari kalangan laki-laki dan perempuan. Silahkan cek di post Macam Macam Ahli Waris Laki-laki dan Perempuan.
2. Pewaris. Yaitu orang yang akan mewariskan Harta Tirkah untuk Ahli Waris.
3. Harta Pewaris(Haknya Ahli Waris). Untuk lebih lanjut bisa cek di Harta Tirkah.
Nah itulah Rukun-Rukun Warisan. Semoga bermanfaat. Baca juga Pembagian Warisan Menurut Islam Sekarang.

                              والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sumber :  Ilmu Faraid Kitab Al Miftah oleh KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak.

Pembagian Warisan Menurut Islam Sekarang

Pembagian Warisan Menurut Islam Sekarang



السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته



      Setelah kemarin flashback pada zaman-zaman dahulu, yaitu pembagian warisan pada zaman jahiliyyah dan pembagian warisan pada awal permulaan islam. Sekarang ulumul islamiyah akan membahas tentang pembagian warisan menurut islam sekarang. Maksudnya, sebab-sebab seorang ahli waris bisa mendapatkan warisan melalui suatu jalur-jalur tertentu. Jalur-jalur tersebut akan dijelaskan dibawah ini.



Sebab Sebab Warisan Menurut Islam Sekarang/Cara Membagi Warisan Menurut Islam Sekarang


1. Keturunan(النّسب)

Artinya memiliki hubungan kekeluargaan dengan orang yang meninggal dunia.

Jalur keturunan ada 3. yaitu :

a. Keturunan atas( ّعلو). Contohnya bapak, ibu, kakek, nenek, dan terus keatas.

b. Keturunan menengah(توسّط). Contohnya saudara laki-laki, saudara perempuan, anak saudara laki-laki dst.

c. Keturunan kebawah(سفل). Contohnya anak, cucu, cicit, dan terus kebawah.

2. Nikah(النكاح)

Yaitu memiliki hubungan pernikahan yang sah dengan orang yang meninggal dunia.

Meskipun dalam pernikahan tersebut belum terjadi hubungan suami istri, jalur warisan ini akan terputus jika terjadi perceraian antara suami dan istri.

Tapi apabila perceraian tersebut masih dalam kategori cerai roj'i yaitu perceraian yang masih memiliki kesempatan untuk kembali lagi. Maka suami/istri masih memiliki hubungan kewarisan.

Contoh :
a. Budi menikah dengan Zainab. Pada saat Ijab,Qabul Zainab memang terlihat fit, dan disampingnya juga ada wali dan saksi, tetapi setelah semua rukun nikah selesai dan waktu sudah mulai malam tiba-tiba Zainab kelelahan dan meninggal dunia. Nah Budi bisa mewarisi harta Zainab. b. Budi menikah dengan Zainab. Pernikahan berjalan lancar tanpa kendala dan mereka menjalin rumah tangga dengan baik. Tetapi setelah 3 tahun menikah ada sebuah pertengkaran yang dahsyat sehingga Budi menjatuhkan talak kepada Zainab, tetapi masih pada kategori talak roj'i, setelah mendengar pernyataan talak tersebut, Zainab ternyata sedang menderita penyakit diabetes, karena mungkin terlalu banyak pikiran akhirnya Zainab meninggal. Nah Budi bisa mewarisi harta Zainab.

Baca Juga :

3. الولاء yaitu jalur memerdekakan budak.

     Maksudnya budak yang dimerdekakan oleh tuannya, apabila budak tersebut meninggal dunia, maka tuannya bisa menjadi ahli waris budak tersebut. Karena budak telah hilang, kemungkinan ini sudah tidak berlaku.

4. جهّة الاسلام

     Cara ini diterapkan apabila terdapat orang meninggal tetapi dia tidak memiliki ahli waris satu pun. Maka penyelesaiannya yaitu Harta Tirkah diberikan kepada بيت المال(kas bendahara islam) lalu oleh بيت المال Harta Tirkah tersebut digunakan untuk kepentingan umat islam. Nah itulah Cara/Jalur Warisan Menurut Islam Sekarang. Semoga bermanfaat.

والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sumber :  Ilmu Faraid dari Kitab Al Miftah oleh Alm. KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak.

Friday, September 9, 2016

Pembagian Warisan Pada Permulaan Islam

Pembagian Warisan Pada Permulaan Islam                  


السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

     Saudara Ulumul Islamiyah, seperti yang kita ketahui, permulaan islam adalah suatu zaman dimana islam masih dalam tahap sembunyi-sembunyi penyebarannya. Di zaman ini orang-orang yang masuk islam dimusuhi, didzalimi, dianiaya dan perbuatan yang merugikan yang lainnya. Karena dirasa kota makkah tidak aman lagi untuk ditinggali, akhirnya Nabi Muhammad SAW mendapat perintah Allah untuk berhijrah ke madinah.
   
     Pada saat itu juga sudah ada jalur-jalur/sebab-sebab seorang ahli waris mendapatkan warisan versi islam. Jalur-jalur/sebab-sebab seorang ahli waris mendapatkan warisan versi islam pada waktu itu menyesuaikan keadaan pada waktu itu. Lantas apa saja jalur-jalur/sebab-sebab seorang ahli waris mendapatkan warisan pada permulaan islam?

Jalur-Jalur/Sebab-Sebab Seorang Ahli Waris Mendapatkan Warisan Pada Permulaan Islam

1. Hijrah(هجرة) yaitu pindah dari makkah ke madinah bersama Rasulullah SAW. Orang yang ikut hijrah bisa mewaris kepada orang yang hijrah lainnya meskipun mereka tidak memiliki hubungan kekerabatan. Orang yang tidak ikut hijrah maka tidak bisa mewaris kepada orang yang hijrah meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan.

2. ماخاة(Muakhot) yaitu pengikraran diri menjadi kerabat terhadap orang lain.


    

Sumber : Ilmu Faraid dari Kitab Al Miftah oleh Alm. KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah-1

Thursday, September 8, 2016

Pembagian Warisan Pada Zaman Jahiliyyah

Pembagian Warisan Pada Zaman Jahiliyyah




السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته 


Selamat datang di Ulumul Islamiyah.

Pada kesempatan ini saya akan membahas tentang pembagian warisan pada zaman jahiliyyah.

Zaman jahiliyyah.

Dilihat dari arti harfiahnya jahiliyyah adalah bodoh.

Tetapi apakah orang-orang arab bodoh pada waktu itu?


TIDAK.


Justru mereka malah pandai-pandai, ada yang pandai bermain syair, ada yang pandai bermain sastra(sekarang dijadikan sebagai ilmu yaitu ilmu balaghah) dan lainnya.

Tetapi kenapa dikatakan jahiliyyah? pada zaman tersebut masyarakat arab tidak meng-imani ajaran dakwahnya nabi Muhammad SAW.

Pembagian warisan pasti ada sebab-sebab/jalur-jalur/cara-caranya. Nah pada zaman jahiliyyah sebab-sebab/jalur-jalur/cara-caranya seorang ahli waris memperoleh warisan itu ada 3.

pembagian warisan pada zaman jahiliyyah

Sebab Sebab Warisan Pada Zaman Jahiliyyah 

1. Keturunan (النسب)

Tidak semua keturunan bisa mendapatkan warisan pada waktu itu, hanya keturunan laki-laki saja yang bisa mendapatkan warisan, itupun harus memenuhi beberapa persyaratan.

Persyaratannya antara lain sebagai berikut :

- Berani naik kuda. Jadi ahli waris yang tidak berani naik kuda akan tersingkirkan.

- Berani membunuh musuh. Jadi kalo naik kuda berani tetapi tidak berani membunuh musuh maka akan tersingkirkan juga.

- Bisa mengambil harta rampasan perang.

Berani naik kuda sudah berani membunuh musuh sudah tetapi tidak bisa mengambil harta rampasan perang? tersingkirkan juga.

Jika seorang pewaris tidak memiliki ahli waris laki-laki seperti diatas maka akan menggunakan cara ke-dua yaitu

2. Mengangkat anak/Mengadopsi anak (التبني)

Cara ini dilakukan pada zaman jahiliyah dulu, apabila pewaris tidak memiliki seorang ahli waris dengan kriteria diatas.

Catatan : Orang yang mengaku-ngaku anak/bapak dengan tujuan untuk mendapatkan warisan maka dosa besar dan akan mendapat laknat dari Allah, malaikat dan semua manusia.

Syaikhoni(Bukhori-Muslim) juga berkata : Orang yang mengaku ayah padahal tahu itu bukan ayahnya maka surga haram baginya.

Ibnu katsir juga berkata dalam tafsirnya : Bila ada orang mengakui seseorang sebagai anak dengan dasar senang/memulyakan maka tidak dilarang, seperti Nabi Muhammad SAW pernah memanggil Shohabat Anas dengan sebutan Wahai Anakku atau dalam arabnya kurang lebih seperti ini


 كَمَا نَادَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَسًا فَقَالَ لَهُ يَا بُنَيَّ 


Artinya : Seperti Nabi SAW memanggil Shohabat Anas dengan sebutan wahai .anakku .

Contoh dalam hadist berikut


 قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ ثُمَّ قَالَ لِي يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ 


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai, anakku! Jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari di hatimu tidak ada sifat khianat pada seorangpun, maka perbuatlah,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku lagi: “Wahai, anakku! Itu termasuk sunnahku. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, .maka aku bersamanya di Surga

3. الحلف والعهد yaitu ikrar yang dibuat oleh kedua belah pihak, jika salah satu dari mereka meninggal dunia maka yang hidup bisa mewarisi hartanya yang mati terlebih dahulu. 

Nah itulah Jalur-Jalur/Sebab-Sebab/Cara-Cara Warisan Pada Zaman Jahiliyyah. Sebab-Sebab diatas sudah tidak berlaku lagi sekarang.

Untuk sebab-sebab/jalur-jalur warisan pada permulaan islam silahkan baca :

Pembagian Warisan Pada Permulaan Islam.

Atau

Jika mau tahu sebab-sebab/jalur-jalur warisan pada islam sekarang silahkan baca :

Pembagian Warisan Menurut Islam Sekarang

والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

Sumber : Kitab Al Miftah oleh Alm. KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah-1

Monday, September 5, 2016

Harta Tirkah

Harta Tirkah

harta tirkah
berasal dari bahasa Arab المال yang artinya harta dan التركة yang berarti tinggalan atau warisan.
                                                             

                                                           السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sebelum mempelajari ilmu faraid alangkah baiknya kita mengetahui tentang apa itu Harta Tirkah.


Pengertian Harta Tirkah ( harta peninggalan )

     Dalam Ilmu Faraid Harta Tirkah adalah Harta yang ditinggalkan oleh orang yang meniggal dunia yang tidak boleh dihibahkan dan diwakafkan. Kenapa tidak boleh dihibahkan dan diwakafkan?

Karena ada kewajiban yang harus dilaksanakan oleh ahli waris dengan harta tirkah tersebut


Kewajiban-kewajiban tersebut diantaranya

1. Tajhiz


     Tajhiz ialah segala yang diperlukan seseorang yang meninggal dunia ,sejak dari wafatnya sampai pada penguburannya., seperti: belanja keperluan mayyit, memandikan, mengkafani,sampai pada mengubur.


2. Menebus barang gadai


Yakni, Menebus barang milik mayyit yang pernah digadaikan.


3. Melunasi hutang-hutang


    Menurut ibnu Hazm dan Asyafii, baik mendahulukan hutang pada allah seperti zakat dan kafarat,atas hutang kepada manusia.


4. Pelaksanaan wasiat


     Hak ketiga yaitu pelaksanaan wasiat,dalam batas-batas yang dibenarkan syara’ tanpa perlu persetujuan para waris yaitu,tidak lebih dari seper tiga harta peninggalan,sesudah diambil untuk keperluan tajhiz dan keperluan membayar hutang , baik wasiat itu untuk waris ataupun untuk orang lainJika pengambilan harta untuk pelaksnaan wasiat lebih dari seper tiga,maka diperlukan persetujuan dari pihak para waris.


5. Pembagian sisa harta kepada ahli waris


     Harta yang dimiliki oleh pewaris apabila masih sisa harta, sesudah diambil keperluan tajhiz keperluan membayar hutang dan wasiat. Maka sisa itu menjadi harta waris dan dibagi menurut ketentuan syara’.

Harta gono-gini

     Sebelum harta dibagi-bagi kepada para ahli waris, hukum adat meneliti lebih dahulu macam dan asal harta peninggalan itu apakah merupakan harta masing-masing pihak yang terpisah satu sama lain atau merupakan harta campuran dari suami dan istri.
     
     Jika harta kekayaan masing-masing yang diperoleh secara warisan itu hanya dapat diwarisi oleh anak-anak si mati itu sendiri dan kalau tidak mempunyai anak diwarisi oleh keluarga yang meninggal,selanjutnya harta yang diperoleh secara hibah atau dengan hasil usaha sendiri,dapat diwarisi oleh anak istri atau suami yang masih hidup.

Cara Memisahkan Harta Gono-Gini

1. Omset kekayaan diambil modal awal.
2. Modal awal diberikan kepada masing-masing suami, istri.
3. Sisa kekayaan dibagi 2 dan diberikan kepada masing-masing suami, istri.
c. Kewajiban yang harus dilakukan dengan harta tirkah(peninggalan)

Baca juga
                                                               والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sumber :
Kitab Al Miftah oleh (Alm) KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak.