Harta Tirkah

Harta Tirkah

berasal dari bahasa Arab المال yang artinya harta dan التركة yang berarti tinggalan atau warisan.
                                                             

                                                           السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Sebelum mempelajari ilmu faraid alangkah baiknya kita mengetahui tentang apa itu Harta Tirkah.


Pengertian Harta Tirkah ( harta peninggalan )

Dalam Ilmu Faraid Harta Tirkah adalah Harta yang ditinggalkan oleh orang yang meniggal dunia yang tidak boleh dihibahkan dan diwakafkan. Kenapa tidak boleh dihibahkan dan diwakafkan? Karena ada kewajiban yang harus dilaksanakan oleh ahli waris dengan harta tirkah tersebut


Kewajiban-kewajiban tersebut diantaranya

1. Tajhiz


Tajhiz ialah segala yang diperlukan seseorang yang meninggal dunia ,sejak dari wafatnya sampai pada penguburannya., seperti: belanja keperluan mayyit, memandikan, mengkafani,sampai pada mengubur.


2. Menebus barang gadai


Yakni, Menebus barang milik mayyit yang pernah digadaikan.


3. Melunasi hutang-hutang


Menurut ibnu Hazm dan Asyafii, baik mendahulukan hutang pada allah seperti zakat dan kafarat,atas hutang kepada manusia.


4. Pelaksanaan wasiat


Hak ketiga yaitu pelaksanaan wasiat,dalam batas-batas yang dibenarkan syara’ tanpa perlu persetujuan para waris yaitu,tidak lebih dari seper tiga harta peninggalan,sesudah diambil untuk keperluan tajhiz dan keperluan membayar hutang , baik wasiat itu untuk waris ataupun untuk orang lainJika pengambilan harta untuk pelaksnaan wasiat lebih dari seper tiga,maka diperlukan persetujuan dari pihak para waris.


5. Pembagian sisa harta kepada ahli waris


Harta yang dimiliki oleh pewaris apabila masih sisa harta, sesudah diambil keperluan tajhiz keperluan membayar hutang dan wasiat. Maka sisa itu menjadi harta waris dan dibagi menurut ketentuan syara’.

Harta gono-gini

Sebelum harta dibagi-bagi kepada para ahli waris, hukum adat meneliti lebih dahulu macam dan asal harta peninggalan itu apakah merupakan harta masing-masing pihak yang terpisah satu sama lain atau merupakan harta campuran dari suami dan istri.
Jika harta kekayaan masing-masing yang diperoleh secara warisan itu hanya dapat diwarisi oleh anak-anak si mati itu sendiri dan kalau tidak mempunyai anak diwarisi oleh keluarga yang meninggal,selanjutnya harta yang diperoleh secara hibah atau dengan hasil usaha sendiri,dapat diwarisi oleh anak istri atau suami yang masih hidup.

Cara Memisahkan Harta Gono-Gini

1. Omset kekayaan diambil modal awal.
2. Modal awal diberikan kepada masing-masing suami, istri.
3. Sisa kekayaan dibagi 2 dan diberikan kepada masing-masing suami, istri.
c. Kewajiban yang harus dilakukan dengan harta tirkah(peninggalan)

Baca juga
Ilmu Faraid
                                                               والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sumber :
Kitab Al Miftah oleh Alm. KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah 1 Mranggen, Demak.
Ulumul Islamiyah.
Previous
Next Post »