Pembagian Warisan Pada Zaman Jahiliyyah

Pembagian Warisan Pada Zaman Jahiliyyah


السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

Selamat datang di Ulumul Islamiyah.

Pada kesempatan ini saya akan membahas tentang pembagian warisan pada zaman jahiliyyah.

Zaman jahiliyyah.

Dilihat dari arti harfiahnya jahiliyyah adalah bodoh.

Tetapi apakah orang-orang arab bodoh pada waktu itu?

TIDAK.

Justru mereka malah pandai-pandai, ada yang pandai bermain syair, ada yang pandai bermain sastra(sekarang dijadikan sebagai ilmu yaitu ilmu balaghah) dan lainnya.

Tetapi kenapa dikatakan jahiliyyah? pada zaman tersebut masyarakat arab tidak meng-imani ajaran dakwahnya nabi Muhammad SAW.

Pembagian warisan pasti ada sebab-sebab/jalur-jalur/cara-caranya. Nah pada zaman jahiliyyah sebab-sebab/jalur-jalur/cara-caranya seorang ahli waris memperoleh warisan itu ada 3.

Sebab Sebab Warisan Pada Zaman Jahiliyyah 

1. Keturunan (النسب)

Tidak semua keturunan bisa mendapatkan warisan pada waktu itu, hanya keturunan laki-laki saja yang bisa mendapatkan warisan, itupun harus memenuhi beberapa persyaratan.

Persyaratannya antara lain sebagai berikut :

- Berani naik kuda. Jadi ahli waris yang tidak berani naik kuda akan tersingkirkan.

- Berani membunuh musuh. Jadi kalo naik kuda berani tetapi tidak berani membunuh musuh maka akan tersingkirkan juga.

- Bisa mengambil harta rampasan perang.

Berani naik kuda sudah berani membunuh musuh sudah tetapi tidak bisa mengambil harta rampasan perang? tersingkirkan juga.

Jika seorang pewaris tidak memiliki ahli waris laki-laki seperti diatas maka akan menggunakan cara ke-dua yaitu

2. Mengangkat anak/Mengadopsi anak (التبني)

Cara ini dilakukan pada zaman jahiliyah dulu, apabila pewaris tidak memiliki seorang ahli waris dengan kriteria diatas.

Catatan : Orang yang mengaku-ngaku anak/bapak dengan tujuan untuk mendapatkan warisan maka dosa besar dan akan mendapat laknat dari Allah, malaikat dan semua manusia.

Syaikhoni(Bukhori-Muslim) juga berkata : Orang yang mengaku ayah padahal tahu itu bukan ayahnya maka surga haram baginya.

Ibnu katsir juga berkata dalam tafsirnya : Bila ada orang mengakui seseorang sebagai anak dengan dasar senang/memulyakan maka tidak dilarang, seperti Nabi Muhammad SAW pernah memanggil Shohabat Anas dengan sebutan Wahai Anakku atau dalam arabnya kurang lebih seperti ini

 كَمَا نَادَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَسًا فَقَالَ لَهُ يَا بُنَيَّ 

Artinya : Seperti Nabi SAW memanggil Shohabat Anas dengan sebutan wahai .anakku .

Contoh dalam hadist berikut

 قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ ثُمَّ قَالَ لِي يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai, anakku! Jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari di hatimu tidak ada sifat khianat pada seorangpun, maka perbuatlah,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku lagi: “Wahai, anakku! Itu termasuk sunnahku. Dan barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa yang telah mencintaiku, .maka aku bersamanya di Surga

3. الحلف والعهد yaitu ikrar yang dibuat oleh kedua belah pihak, jika salah satu dari mereka meninggal dunia maka yang hidup bisa mewarisi hartanya yang mati terlebih dahulu. 

Nah itulah Jalur-Jalur/Sebab-Sebab/Cara-Cara Warisan Pada Zaman Jahiliyyah. Sebab-Sebab diatas sudah tidak berlaku lagi sekarang.

Untuk sebab-sebab/jalur-jalur warisan pada permulaan islam silahkan baca :

Pembagian Warisan Pada Permulaan Islam.

Atau

Jika mau tahu sebab-sebab/jalur-jalur warisan pada islam sekarang silahkan baca :

Pembagian Warisan Menurut Islam Sekarang

والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

Sumber : Kitab Al Miftah oleh Alm. KH Agus Magfur Murodi pendiri pondok pesantren Murodi yang berada di Jl. Suburan Barat, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
MA Futuhiyyah-1
Previous
Next Post »